Tuesday, June 10, 2014

Amanjiwo resort

Amanjiwo (peaceful soul) rests in the rural heartland of Central Java. The resort is located within a natural amphitheatre, with the limestone Menoreh Hills rising gently behind, the Kedu Plain in front and four volcanoes (Sumbing and Sundoro to the west, Merbabu and Merapi to the east) on the horizon. Amanjiwo looks out onto the 9th-century Buddhist sanctuary of Borobudur, a UNESCO World Heritage Site. Several villages are within walking distance of the resort.
The heart of Amanjiwo is a sweeping circular monolith crafted of paras yogya, a type of limestone found in the Yogyakarta area. Amanjiwo’s remarkable position is obvious from the moment of arrival. The view runs like an arrow through Amanjiwo’s entrance and the stone corridor that neatly cleaves the resort, up the steps to the soaring, bell-shaped rotunda, down to the Restaurant, outside to the Terrace, past fields of rice and vegetables and on in a direct line to Borobudur itself. Amanjiwo’s major design motif of circles, squares and crescents pays homage to Borobudur and to Central Java’s centuries-old temple architectural traditions.


BorobudurTemple lake

Berbagai kajian seputar Candi Borobudur seolah selalu memunculkan khasanah baru bagi pustaka Sejarah peradaban dan kejayaan masa lalu di bumi Pertiwi Indonesia ini.


Sebagaimana kita semua ketahui, 
di negeri ini banyak sekali ditemukan Candi peninggalan kerajaan-kerajaan masa lalu.

Dan di antara candi-candi yang telah ditemukan hingga kini, yang terbesar ialah Candi Borobudur.

Secara administratif, Candi Borobudur terletak di Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Candi ini berada di atas bukit kecil di tengah dataran yang dibatasi Pegunungan Menoreh di sebelah selatan dan gunungapi Kuarter di sebelah utara.

Candi ini dibangun pada akhir abad ke-8 oleh Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra. Pembangunannya diarsiteki oleh Gunadharma dan selesai dibangun pada tahun 746 Saka atau 824 Masehi.

Benarkah Borobudur diatas Danau

Wilayah di sekitar Candi Borobudur saat ini bukanlah danau, melainkan sawah dan pemukiman penduduk. Artinya, danau tersebut mungkin telah surut atau memang tidak pernah ada.

Hipotesa mengenai keberadaan danau purba di daerah Borobudur pertama kali diutarakan oleh seorang seniman dan arsitek Belanda bernama W.O.J Nieuwenkamp, lewat bukunya yang berjudulFiet Borobudur Meer (Danau Borobudur) pada tahun 1931.

Ia mengungkapkan bahwa Candi Borobudur merupakan perwujudan sebuah Ceplok Bunga Teratai yang mengapung di tengah-tengah telaga (www.kr.co.id). Namun, pendapat Nieuwenkamp ini ditentang oleh van Erp, pemimpin pemugaran Candi Borobudur pada tahun 1907-1911. Salah satu alasannya ialah bahwa pernyataan Nieuwenkamp tidak didukung bukti kuat seperti prasasti. Namun, geomorfologi di sekitar candi terbesar di Indonesia tersebut yang mirip suatu cekungan memungkinkan keberadaan danau purba tersebut (Nisin dan Vote, 1986 di www.kr.co.id).

Seorang pakar geologi bernama van Bemmelen (1949) mendukung hipotesa Nieuwenkamp tersebut. Dalam bukunya yang berjudul The Geology of Indonesia (Geologi Indonesia) menyebutkan, di daerah Magelang bagian selatan dahulu pernah terbentuk danau yang luas. Terbentuknya danau diakibatkan oleh letusan kuat dari Gunung Merapi tahun 1006 M.

Besarnya letusan mengakibatkan sebagian puncak Merapi mengalami pelongsoran ke arah barat daya, kemudian tertahan oleh Pegunungan Menoreh bagian timur yang berada di selatan daerah Borobudur. Akibatnya, material longsoran tersebut membendung aliran Kali Progo di timur Borobudur, sehingga terbentuklah genangan yang luas di dataran Magelang bagian selatan. Setelah berabad-abad, sumbatan yang membendung Kali Progo hilang oleh proses erosi, akhirnya danau mengering (van Bemmelen, 1949).

Kemudian, hasil pengeboran yang dilakukan oleh tim kajian geologi yang dipimpin Guru Besar Geografi UGM, Prof. Dr. Sutikno berhasil membuktikan keberadaan danau purba tersebut. Pengeboran yang dilakukan di Kali Sileng, Kali Progo dan Kali Elo tersebut berhasil menemukan endapan danau berupa batulempung hitam yang banyak mengandung serbuk sari dari tanaman rawa atau danau, seperti teratai, rumput air dan tumbuhan paku, serta fosil fragmen kayu.


Batulempung tersebut mengelilingi sekitar bukit Borobudur ke utara sampai Kecamatan Metroyudan bagian selatan dan berakhir di bagian tenggara Jembatan Klangon di perbatasan Kabupaten Magelang dan Kabupaten Kulon Progo (DIY). Sementara di sisi barat membentang hingga Desa Samberan dan Ringinanom yang masuk wilayah Kecamatan Tempuran.

Penampang stratigrafi yang dihasilkan dari Kali Progo, Kali Elo dan Kali Sileng
(Mulyaningsih dan Bronto, 2000)
Borobudur -Gunung Merapi dan Gunung Merbabu sbg latar belakang

Berdasarkan analisis Karbon-14 pada batulempung hitam tersebut, maka dapat diperkirakan bahwa danau tersebut telah terbentuk sejak 22.000 tahun yang lalu pada jaman Plistosen.

Perkembangan danau dimulai dengan material Gunung Merapi, yang membendung Kali Progo di suatu tempat sehingga menghalangi aliran air di bagian hulu (Kali Elo-Mendut-Borobudur-Bumi Segoro-Kali Sileng) hingga terbentuk danau di utara secara terus-menerus.

Setelah Danau Borobudur Purba terbentuk, genangannya diperkirakan tidak mengalami sirkulasi air.

Kemudian pada akhir abad ke-8 dibangun Candi Borobudur di atas dataran tinggi di tengah-tengah danau oleh Raja Samaratungga. Candi ini menggambarkan bunga teratai di tengah telagasebagai perwujudan tempat kelahiran Sang Buddha. Kemudian, material Gunung Merapi yang memasuki danaulah yang mengeringkan danau tersebut secara intensif selama beberapa kali. Akhirnya, jadilah Candi Borobudur seperti yang sekarang, berada di atas bukit dan dikelilingi oleh sawah dan pemukiman penduduk.


Referensi:
Mulyaningsih, S. dan Bronto, S., 2000. Genesis Of The Ancient Borobudur Lake, Central Java Related To Merapi Volcano Activities, Proceedings of Indonesian Association of Geologists The 29th Annual Convention, Bandung, Indonesia, hal 149-154
Van Bemmelen, R. W., 1949. The Geology of Indonesia vol. 1A, The Hague, Netherland 
source: IQbalputra 

A Human Sky

Mengenai "Uwais Al Qorni" Rasulullah pernah mengisyaratkan, tentang keberadaannya sebagai sesosok manusia “Penghuni Langit”, namanya Uways (Uwais) Al Qorni.

Rasulullah SAW bersabda : “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qorni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.” Sesudah itu beliau, memandang kepada Ali bin Abi Thalib r.a. dan Umar bin Khattab r.a. lalu bersabda : “Suatu saat apabila kalian bertemu dengan dia mintalah do’a dan istighfarnya, karena dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi”

"Uwais" adalah seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, dengan kulitnya kemerah-merahan. Pemuda dari Yaman ini tak punya sanak famili kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan menderita lumpuh. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing.

Mayoritas Ulama berpendapat, istilah “Penghuni Langit” 
yang disandang oleh Uwais, dikarenakan baktinya yang sangat luar biasa kepada ibunya.



"Misteri Uwais", manusia langit dari Yaman


Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah dan akhirnya bertemu dengan Umar ra dan Ali bin abi Thalib. Saat itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya.

Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata : “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi”.

Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah meninggal dunia. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang tak dikenal yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya.

Demikian pula ketika masyarakat pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.

Dan Abdullah bin Salamah menjelaskan, “ketika itu aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya. Lalu aku bermaksud kembali ke tempat penguburannya untuk memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat lagi adanya bekas kuburannya”. (Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang dalam satu pasukan, bersama Uwais al-Qorni di masa pemerintahan Umar Ibnu Khattab r.a.).

Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang.

Sumber : wikipedia.org dan Ramalan Islami: Ya’juj Majjuj Serbuan ALIEN Di Masa Depan. Benarkah?
Manusia “Penghuni Langit” = Alien dari Planet Nibiru ?

Entah kebetulan atau tidak, ciri-ciri fisik Uways sangat mirip dengan ras Kaukasia, yang oleh beberapa kalangan dikatakan mewarisi ciri fisik bangsa Anunnaki, Alien dari Planet Nibiru. Meskipun Islam, tidak menolak kemungkinan adanya makhluk lain, di luar bumi. Namun tidak serta merta kita menyatakan, Uways sesungguhnya Alien, yang nyasar di bumi ini.

Benarkah Planet Nibiru, yang dihuni bangsa Anunnaki itu ada? Atau hanya cerita dongeng dari Bangsa Sumeria? Jika Uways adalah Alien, bagaimana ia bisa sampai ke Yaman? Apakah ia datang melalui pintu Wormhole? (Kunjungi : Identifikasi Fenomena Wormhole, menurut Al Qur’an?).

Ke-shahihan kisah Uways Al Qorni, juga harus diteliti lagi. Hal tersebut, dalam upaya untuk menghindari cerita-cerita dongeng bangsa Sumeria kuno, masuk ke dalam khasanah keilmuan umat muslim.

Andaikan semua kisah tentang Uways adalah sebuah fakta, penjelasan yang paling logis saat ini adalah, Uways Al Qorni adalah seorang keturunan bangsa Kaukasia, yang tinggal di negeri Yaman. Baktinya terhadap Sang Bunda, telah memberi kemuliaan kepada dirinya, digelari “Penghuni Langit” oleh Rasulullah.

Allohua'alam bishawab

Monday, June 9, 2014

Heat Pool of CANDI UMBUL

Candi Umbul adalah sebuah sendang / pemandian air hangat       yang berlokasi di daerah Grabag kabupaten Magelang tempatnya sangat Asri dan sejuk karena lokasinya berada ditengah persawahan dan dikelilingi bukit pegunungan, dan HTMnya sangat murah hanya Rp 5000'; saja.









Hangatnya Pemandian Candi Umbul
3/15/2013

Sampainya saya di Candi Umbul ini merupakan akhir dari rangkaian perjalanan mengunjungi beberapaAir terjun yang ada di sekitaran Salatiga-KopengKetertarikan saya dengan objek wisata yang juga merupakan peninggalan sejarah ini adalah dengan adanya kolam air panas yang ada di kompleks candi. Dari namanya saja sudah bisa diketahui kalau ada mata air disana. Orang jawa menyebut "umbul" yang berarti mata air. Berbeda dengan mata air kebanyakan, yang ada di Candi Umbul ini adalah mata air dengan yang bersuhu hangat.
Satu lagi yang membuat berbeda dengan mata air panas yang lain yang sebagian besar berbau belerang, namun air hangat yang muncul dari sumbernya di Candi Umbul ini sama sekali tidak berbau belerang sehingga saat menikmati hangatnya air kita tidak terganggu dengan bau-bauan belerang yang menyesakkan walaupun sebenarnya sumber air panas ini mengandung belerang.
Di situs peninggalan nenek moyang ini terdapat reruntuhan candi yang sudah tidak bisa dikenali lagi bagaimana bentuk aslinya. 

Sebenarnya jika candi itu masih utuh, kita bisa menikmati mahakarya masa lampau sekaligus berendam air hangat di dekatnya. Namun sekarang tempat wisata ini lebih dikenal karena pemandiannya bukan karena candinya itu sendiri yang memang sudah runtuh sehingga bagi sebagian orang tidak menarik lagi. Namun bagi saya walaupun candi utama sudah dalam kondisi demikian, tetap saja memiliki nilai sejarah yang tak ternilai. Mengenai asal usul dan latar belakang candi ini sepertinya belum banyak yang tahu bahkan warga sekitar pun tidak banyak  yang tahu akan sejarah dibuatnya candi ini selain hanya mengetahui kalau tempat ini mulai dibuka sekitar tahun 1970an. Pemandian ini mengingatkan saya pada satu pemandian di sekitaran Keraton Yogyakarta yang sangat megah, namun karena satu kejadian yang membuat pembangunan pemandian ini tidak selesai sehingga tempat ini tak seindah pemandian Taman Sari. Padahal fungsinya pun hampir sama sebenarnya dengan yang ada di keraton tersebut yaitu sebagai pemandian puteri raja. Konon katanya tempat ini merupakan pemandian para puteri raja di masa Wangsa Syailendra yang juga satu zaman dengan Candi Borobudur.






Reruntuhan Candi Umbul




Kolam Pemandian Candi Umbul